Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)  

Minggu, 31 Mei 2009

Senin, 16 Mei 2005 09:24


Kapanlagi.com - Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akhirnya menjadi meraih tiket ke Kontes Robot Dunia pada 27 Agustus 2005.

Hal itu diraih setelah tim yang dikomandani Sigit Hardhiyono itu menjadi juara umum dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, Jakarta, Minggu petang.

Keberhasilan tim binaan Eko Henfry Binugroho yang mantan driver robot B-Cak (juara dunia pada 2001) itu berkat kemenangan atas tim tuan rumah "Maximum Balance" dari Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5.

Bahkan, kemenangan Askaf-i di hadapan Dirjen Dikti Prof Ir Satryo Sumantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih "climb" dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan.

Capaian "climb" itu berarti robot Askaf-i dalam KRI yang bertemakan "Mencapai Puncak Borobudur, Nyalakan Api Perdamaian" itu berhasil memasukkan bola pada puncak "stupa borobudur" dengan diikuti keberhasilan meletakkan bola pada empat "canister" (mangkuk) di luar "borobudur" sehingga membentuk diagonal.

Tim robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).

"Saya gembira atas kemenangan itu, karena melewati permainan yang cukup seru dan kami sempat mengalami gangguan mekanik. Kunci kemenangan kami sebenarnya pada tembakan langsung ke `stupa` yang ada di luar ," kata Kristian Ari, driver robot manual dari Askaf-i.

Ditanya kesiapan ke Beijing, mahasiswa PENS-ITS angkatan 2002 itu menjelaskan tim Askaf-i akan melakukan perbaikan pada sistem mekanik dari robot yang kurang kuat, apalagi melihat tim tangguh lainnya dari Vietnam, Thailand, dan Jepang.

Menurut Ketua Tim Juri KRI 2005 Dr Ir Wahidin Wahab MSc dari UI, kemenangan tim robot ITS karena memang merupakan tim yang memiliki rancangan mekanik dan elektro cukup bagus, bahkan robot manual dapat bergerak kencang tanpa bergetar atau oleng.

"Robot yang mereka rancang itu tak kalah dengan robot buatan industri, meski dirancang dengan tangan, karena itu dalam tiga bulan menjelang ke Beijing hendaknya memperbaiki robot yang memasukkan bola-bola ke stupa puncak. Saya juga menyarankan untuk membuat mesin baru yang mampu menghalangi gerak lawan," katanya.

Menanggapi kemenangan tim PENS-ITS itu, Rektor ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA yang "menunggui" selama dua hari (14-15 Mei) itu menyatakan kemenangan itu bukan kegiatan sesaat, karena yang paling penting adalah riset and development (R&D) di bidang robotika.

"Membuat robot itu bukan membuat karya yang langsung jadi, tapi harus dilakukan dengan riset yang terus-menerus ditingkatkan, karena itu untuk ke Beijing perlu dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ada selama ini serta merancang strategi tabrakan yang tangguh," katanya.

Namun, katanya, hal yang tak kalah penting adalah komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk memberikan dorongan fasilitas dan dukungan moril. "Kehadiran saya, pak Jazidie (PR III ITS), dan pak Titon Dutono (direktur PENS-ITS) merupakan bukti dari komitmen instuti dan dukungan moril yang sangat penting," katanya.

AddThis Social Bookmark Button


sensor photodiode, komparator, look up table  

IES Tahun : 2005
Authors : Eko Henfri Binugroho, Kristian Ari Prasetyo, Sigit Hardhiyono
Kategori : MECHATRONIC, ROBOTIC & AUTOMATION
Institusi : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Judul : Penggunaan Kombinasi Array Sensor Depan dan Belakang
Abstrak : Robot otomatis ASKAF-i merupakan suatu robot yang bergerak secara otomatis dengan mengikuti garis dalam kontes robot yang diselenggarakan oleh ABU (Asia Pacific Broadcasting Union). Robot dirancang untuk meletakkan bola dari titik start ke target yang ada di lapangan pertandingan dengan panduan dari garis yang ada di lantai.
Garis pemandu yang ada di lapangan adalah jalur lurus dengan banyak perempatan, dan robot harus dapat mengikuti garis dan melewati jalur sesuai yang telah ditentukan sebelumnya. Kecepatan dan ketepatan gerak dari robot merupakan target utama dari perancangan robot ini.
Sensor yang digunakan adalah sensor photodiode yang mendeteksi perbedaan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh lantai dan garis putih. Output sensor dimasukkan ke dalam rangkaian komparator untuk menghasilkan data untuk dimasukkan ke dalam kontroler. Rangkaian kontroler yang digunakan dibuat dengan menggunakan mikrokontroler AT89S51.
Supaya robot dapat bergerak lurus mengikuti garis, digunakan 8 buah sensor photodiode. Lima buah sensor dipasang di bagian depan robot, sedangkan tiga lainnya dibagian tangah dari robot. Kombinasi dari kedelapan sensor tersebut diolah pada kontroler untuk menentukan nilai kecepatan dari motor kiri dan kanan sebagai penggerak utama robot.
Metode penentuan kecepatan adalah dengan metode look up table berdasarkan kombinasi kondisi sensor depan dan sensor belakang. Selain itu rangkaian kontroler juga mengolah kecepatan perubahan posisi robot terhadap garis pemandu untuk memperbaiki performa dari gerakan robot. Sedangkan sebagai penggerak utama digunakan 2 buah motor masing-masing untuk roda kiri dan kanan.

Kata kunci : sensor photodiode, komparator, look up table

AddThis Social Bookmark Button


Robot Surabaya Taklukan Jakarta  

Robot Jakarta yang pada babak penyisihan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2005 mulai unjuk gigi, akhirnya berguguran di babak penyisihan ketiga, hanya Maximum Balance dari Universitas Indonesia (UI) yang mampu menembus babak perempat final hingga final, namun akhirnya harus gigit jari setelah ditaklukan juara KRI tahun 2004 yaitu Politeknik Negeri Surabaya dengan robotnya yang bernama ASKAF-i, pada babak final KRI 2005 di Balairung UI Depok, kemarin.
- Robot Jakarta yang pada babak penyisihan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2005 mulai unjuk gigi, akhirnya berguguran di babak penyisihan ketiga, hanya Maximum Balance dari Universitas Indonesia (UI) yang mampu menembus babak perempat final hingga final, namun akhirnya harus gigit jari setelah ditaklukan juara KRI tahun 2004 yaitu Politeknik Negeri Surabaya dengan robotnya yang bernama ASKAF-i, pada babak final KRI 2005 di Balairung UI Depok, kemarin.

Dengan mengantongi nilai empat puluh delapan, akhirnya tim yang terdiri dari Sigit Hardhiyono, Kristian Ari Prasetyo dan Fuad Hasan berhak mewakili Indonesia dalam kontes robot internasional, Robocon 2005, pada bulan Agustus 2005 di Beijing Cina. Menurut anggota tim inti ASKAF-i Kristian Ari Prasetyo, robot yang hanya dibuat hanya dalam tempo tiga bulan itu, kemungkinan akan ada beberapa perubahan untuk membuat lebih cepat. "Di kontes internasional kecepatan dan keseimbangannya cukup tinggi, juga tim-tim dari negera Asia Pasifik lebih kuat,jadi kami harus memperhatikan itu,"katanya sambil menyambut lega kemenangan itu.

Di arena kontes suasana tegang sangat terasa saat memasuki babak final, semua seperti menahan nafas saat peluit dibunyikan. Beberapa detik setelah peluit berbunyi, Askaf-i langsung bergerak, Robot utama langsung meluncur menuju lini tengah dan memuntahkan lima bola ke main torch yang sedang berputar, sementara robot manual diluar arena bergerak cepat mengeruk dan melemparkan tiga belas bola ke fuel disk yang terletak di empat sudut arena, dan yang paling menegangkan saat tembakan terakhir dari sepuluh bola oleh robot di lini pinggir ke arah outer torch, bergemuruhlah tepuk tangan, disusul sujud syukur yang dilakukan Sigit Hardhiyono, dan teriakan kencang dari Kristiani Ari Prasetyo sambil membaringkan diri. Sang juara kembali juara.

Sementara, kegagalan dialami oleh Maximum Balance (MB) dari UI, robot yang mendapat nilai 10 poin saat menghadapi Free Hg dari Politeknik Caltex Riau di semifinal, robot utamanya mendadak mati di depan main torch, yang membuat tim MB meminta re-try kepada wasit. Sementara robot di lini pinggir hanya mampu menembakan lima bola ke outer torch, dan nahasnya robot manual hanya memasukan satu bola ke fuel disk, MB hanya mampu mengantongi nilai enam poin.

KRI akhirnya menjadikan Politeknik Negeri Surabaya sebagai juara bertahan kontes robot, dan berhak memboyong kembali piala bergilir Mendiknas, dan UI menjadi juara kedua. Sementara pemenang desain inovasi terbaik direbut oleh Prisma dari Politeknik Negeri Bandung, pemenang kategori tim dengan spirit terbaik direbut Free Hg dari Politeknik Caltex Riau dan kategori tim dengan penampilan terbaik direbut oleh Nusantara dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sementara di arena Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), robot Jakarta hanya mampu merebut juara kategori tim dengan desain paling ekonomis yang direbut oleh Marisa dari Universitas Indonesia. Marisa yang pada first trial bermain cantik dengan sekali meniup lilin hingga nyala api lilin mati, akhirnya kandas dan hanya mampu merebut juara kategori.

Kontes ini sendiri ditutup oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Suryo Sumantri Brojonegoro dan menyerahkan piala kepada para pemenang. Suryo berharap, juara KRI kali ini dapat membawa nama baik bangsa Indonesia di kontes Internasional. "Kalau pada tahun lalu kalah, sekarang saya berharap besar tim juara kali ini dapat membuktikan lebih dari yang ditampilkan saat ini,"katanya.

Dalam kesempatan tersebut Suryo juga mengatakan, bahwa penyelenggaraan KRI berikutnya akan kembali diselenggarakan di Universitas Indonesia. "Dengan alasan, UI berhasil menjadi panitia yang baik dengan menyelenggarakan kontes dengan sukses,"katanya.

Kemenangan Politeknik Negeri Surabaya disambut gembira oleh para pendukungnya yang duduk di balkon atas, sambil menyanyikan lagu Suarabaya dan bergema ucapan "Terima kasih Jakarta" dari para pendukung ASKAF-i.

AddThis Social Bookmark Button


Design by zaky