Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Minggu, 31 Mei 2009
Kapanlagi.com - Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akhirnya menjadi meraih tiket ke Kontes Robot Dunia pada 27 Agustus 2005.
Hal itu diraih setelah tim yang dikomandani Sigit Hardhiyono itu menjadi juara umum dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, Jakarta, Minggu petang.
Keberhasilan tim binaan Eko Henfry Binugroho yang mantan driver robot B-Cak (juara dunia pada 2001) itu berkat kemenangan atas tim tuan rumah "Maximum Balance" dari Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5.
Bahkan, kemenangan Askaf-i di hadapan Dirjen Dikti Prof Ir Satryo Sumantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih "climb" dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan.
Capaian "climb" itu berarti robot Askaf-i dalam KRI yang bertemakan "Mencapai Puncak Borobudur, Nyalakan Api Perdamaian" itu berhasil memasukkan bola pada puncak "stupa borobudur" dengan diikuti keberhasilan meletakkan bola pada empat "canister" (mangkuk) di luar "borobudur" sehingga membentuk diagonal.
Tim robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).
"Saya gembira atas kemenangan itu, karena melewati permainan yang cukup seru dan kami sempat mengalami gangguan mekanik. Kunci kemenangan kami sebenarnya pada tembakan langsung ke `stupa` yang ada di luar ," kata Kristian Ari, driver robot manual dari Askaf-i.
Ditanya kesiapan ke Beijing, mahasiswa PENS-ITS angkatan 2002 itu menjelaskan tim Askaf-i akan melakukan perbaikan pada sistem mekanik dari robot yang kurang kuat, apalagi melihat tim tangguh lainnya dari Vietnam, Thailand, dan Jepang.
Menurut Ketua Tim Juri KRI 2005 Dr Ir Wahidin Wahab MSc dari UI, kemenangan tim robot ITS karena memang merupakan tim yang memiliki rancangan mekanik dan elektro cukup bagus, bahkan robot manual dapat bergerak kencang tanpa bergetar atau oleng.
"Robot yang mereka rancang itu tak kalah dengan robot buatan industri, meski dirancang dengan tangan, karena itu dalam tiga bulan menjelang ke Beijing hendaknya memperbaiki robot yang memasukkan bola-bola ke stupa puncak. Saya juga menyarankan untuk membuat mesin baru yang mampu menghalangi gerak lawan," katanya.
Menanggapi kemenangan tim PENS-ITS itu, Rektor ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA yang "menunggui" selama dua hari (14-15 Mei) itu menyatakan kemenangan itu bukan kegiatan sesaat, karena yang paling penting adalah riset and development (R&D) di bidang robotika.
"Membuat robot itu bukan membuat karya yang langsung jadi, tapi harus dilakukan dengan riset yang terus-menerus ditingkatkan, karena itu untuk ke Beijing perlu dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ada selama ini serta merancang strategi tabrakan yang tangguh," katanya.
Namun, katanya, hal yang tak kalah penting adalah komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk memberikan dorongan fasilitas dan dukungan moril. "Kehadiran saya, pak Jazidie (PR III ITS), dan pak Titon Dutono (direktur PENS-ITS) merupakan bukti dari komitmen instuti dan dukungan moril yang sangat penting," katanya.