Tim Robot Askaf-i Raih Tiket ke Beijing  

Senin, 01 Juni 2009

Kapanlagi.com - Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akhirnya menjadi meraih tiket ke Kontes Robot Dunia pada 27 Agustus 2005.

Hal itu diraih setelah tim yang dikomandani Sigit Hardhiyono itu menjadi juara umum dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, Jakarta, Minggu petang.

Keberhasilan tim binaan Eko Henfry Binugroho yang mantan driver robot B-Cak (juara dunia pada 2001) itu berkat kemenangan atas tim tuan rumah "Maximum Balance" dari Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5.

Bahkan, kemenangan Askaf-i di hadapan Dirjen Dikti Prof Ir Satryo Sumantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih "climb" dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan.

Capaian "climb" itu berarti robot Askaf-i dalam KRI yang bertemakan "Mencapai Puncak Borobudur, Nyalakan Api Perdamaian" itu berhasil memasukkan bola pada puncak "stupa borobudur" dengan diikuti keberhasilan meletakkan bola pada empat "canister" (mangkuk) di luar "borobudur" sehingga membentuk diagonal.

Tim robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).

"Saya gembira atas kemenangan itu, karena melewati permainan yang cukup seru dan kami sempat mengalami gangguan mekanik. Kunci kemenangan kami sebenarnya pada tembakan langsung ke `stupa` yang ada di luar ," kata Kristian Ari, driver robot manual dari Askaf-i.

Ditanya kesiapan ke Beijing, mahasiswa PENS-ITS angkatan 2002 itu menjelaskan tim Askaf-i akan melakukan perbaikan pada sistem mekanik dari robot yang kurang kuat, apalagi melihat tim tangguh lainnya dari Vietnam, Thailand, dan Jepang.

Menurut Ketua Tim Juri KRI 2005 Dr Ir Wahidin Wahab MSc dari UI, kemenangan tim robot ITS karena memang merupakan tim yang memiliki rancangan mekanik dan elektro cukup bagus, bahkan robot manual dapat bergerak kencang tanpa bergetar atau oleng.

"Robot yang mereka rancang itu tak kalah dengan robot buatan industri, meski dirancang dengan tangan, karena itu dalam tiga bulan menjelang ke Beijing hendaknya memperbaiki robot yang memasukkan bola-bola ke stupa puncak. Saya juga menyarankan untuk membuat mesin baru yang mampu menghalangi gerak lawan," katanya.

Menanggapi kemenangan tim PENS-ITS itu, Rektor ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA yang "menunggui" selama dua hari (14-15 Mei) itu menyatakan kemenangan itu bukan kegiatan sesaat, karena yang paling penting adalah riset and development (R&D) di bidang robotika.

"Membuat robot itu bukan membuat karya yang langsung jadi, tapi harus dilakukan dengan riset yang terus-menerus ditingkatkan, karena itu untuk ke Beijing perlu dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ada selama ini serta merancang strategi tabrakan yang tangguh," katanya.

Namun, katanya, hal yang tak kalah penting adalah komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk memberikan dorongan fasilitas dan dukungan moril. "Kehadiran saya, pak Jazidie (PR III ITS), dan pak Titon Dutono (direktur PENS-ITS) merupakan bukti dari komitmen instuti dan dukungan moril yang sangat penting," katanya. (*/erl)


http://www.kapanlagi.com/newp/h/0000063535.html

AddThis Social Bookmark Button


Robot ITS Raih Dua Gelar Juara  

Surabaya, 16 Mei 2005 09:54
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meraih dua juara dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) III-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, yang berakhir Minggu petang.

Kedua gelar yang sama-sama juara utama itu diraih ITS dalam KRI dan KRCI kategori robot expert (robot beroda dengan rintangan dua lantai). Juara pertama di KRI dan KRCI kategori expert itu sama-sama dipersembahkan tim Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS.

Gelar juara umum dalam KRI dipersembahkan tim robot "Askaf-i" yang mengalahkan robot tuan rumah UI "Maximum Balance" (juara kedua), sedangkan juara pertama dalam KRCI kategori robot expert dipersembahkan tim robot "PENSA-Mobile" yang menundukkan tim robot "Raptor" dari Politeknik Negeri Bandung (Polban).

Namun, tiga robot ITS lainnya kalah, karena ITS mengirimkan tiga robot untuk KRI dan dua robot untuk KRCI. Untuk juara pertama KRCI kategori beroda diraih tim robot Bratasena dari Polban dan juara pertama untuk robot kategori berkaki diraih tim robot "Bladewing" dari ITB Bandung.

Menanggapi kemenangan dua tim ITS itu, Rektor ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA mengatakan pihaknya akan memberi penghargaan dan SPP gratis selama setahun, selain tim robot Askaf-i meraih tiket ke Kontes Robot Dunia di Beijing, Cina, 27 Agustus mendatang.

"Penghargaan dari kami itu tidak terlalu penting, karena yang lebih penting adalah pencitraan di dunia internasional bahwa bangsa Indonesia itu bukan bangsa ecek-ecek (remeh)," katanya.

Robot PENSA-Mobile menang setelah tiga kali main terlihat mampu mendemonstrasikan kebolehannya melakukan pemadaman api di dua lantai dan menemukan boneka bayi dalam sekat-sekat atau kamar-kamar.

PENSA-Mobile yang berbentuk segi lima itu mampu mencatatkan angka tertinggi pada kesempatan kedua dengan nilai sempurna, karena berhasil memadamkan api di dua kamar pada lantai satu dan dua serta menemukan boneka bayi di lantai dua serta kembali lagi ke posisi semula di lantai satu.

Sementara itu, tim robot "Askaf-i" dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akhirnya menjadi meraih tiket ke Kontes Robot Dunia setelah menang atas tim tuan rumah "Maximum Balance" dari Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5.

Bahkan, kemenangan Askaf-i di hadapan Dirjen Dikti Prof Ir Satryo Sumantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih "climb" dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan.

Capaian climb itu berarti robot Askaf-i dalam KRI yang bertemakan "Mencapai Puncak Borobudur, Nyalakan Api Perdamaian" itu berhasil memasukkan bola pada puncak "stupa borobudur" dengan diikuti keberhasilan meletakkan bola pada empat "canister" (mangkuk) di luar "borobudur" sehingga membentuk diagonal.

Tim robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).

Dalam KRI dan KRCI juga ada juara lain yakni tim dengan inovasi terbaik yang diraih tim robot Bledhux dari Universitas Surabaya (Ubaya) dan tim dengan robot paling ekonomis yang diraih tim robot MARISA dari UI. [TMA, Ant]

AddThis Social Bookmark Button


KRI-KRCI 2005 : Robot Askaf-i dapat tiket ke China  

urnalnet.com Jurnalnet.com (Depok):
Robot Askaf-i dari tim Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mendapatkan piala bergilir dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) setelah memenangkan Kontes Robot Indonesia (KRI) di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Minggu (15/5). Robot Askaf-1 juga berhak mewakili Indonesia dalam kontes serupa di tingkat internasional se Asia Pasifik atau ABU (Asia Pacific Broadcasting Union) "Robocon 2005" di Beijing China tanggal 27 Agustus mendatang.

Robot Askaf-i mengalahkan Robot Naximum Balance dari tim Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5, sehingga Robot Naximum Balance harus puas diposisi Juara-II. "Penghargaan dari kami itu tidak terlalu penting, karena yang lebih penting adalah pencitraan di dunia internasional bahwa bangsa Indonesia itu bukan bangsa lemah. Tim ini (Robot Askaf-i) akan diberi penghargaan dan SPP gratis selama setahun oleh ITS," kata Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Mohammad Nuh DEA.

Menurut Ketua Tim Juri KRI 2005 Dr Ir Wahidin Wahab MSc dari UI, kemenangan tim robot ITS karena memang merupakan tim yang memiliki rancangan mekanik dan elektro cukup bagus, bahkan robot manual dapat bergerak kencang tanpa bergetar atau oleng. "Robot yang mereka rancang itu tak kalah dengan robot buatan industri, meski dirancang dengan tangan, karena itu dalam tiga bulan menjelang ke Beijing hendaknya memperbaiki robot yang memasukkan bola-bola ke stupa puncak. Saya juga menyarankan untuk membuat mesin baru yang mampu menghalangi gerak lawan," katanya.

Kemenangan Robot Askaf-i di hadapan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Prof Ir Satrio Soemantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih climb dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan. "Robot Askaf-i akan kembali berlaga pada Robocon 2005 di Beijing China yang akan diikuti 20 tim dari 19 negara se Asia Pasifik, dengan mengangkat tema Climb on the Great Wall Light the Holy Fire," kata Dekan FT-UI Renaldi Damili.

Tim Robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu dengan melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).

Sementara itu untuk kategori robot yang memiliki Disain Inovasi Terbaik diraih oleh Robot Prisma dari tim Politeknik Negeri Bandung. Dewan Juri juga memberikan penghargaan untuk Tim Dengan Spirit Terbaik dari tim Politeknik Caltex Riau dengan robotnya Free Hg. Sedangkan kategori Tim Dengan Penampilan Terbaik diraih oleh tim dari Institut Teknologi Bandung dengan Robot Nusantara.

Untuk kategori Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) versi robot beroda dimenangkan oleh Robot Bratasena dari Politeknik Negeri Bandung, disusul Robot The Vision dari Universitas Lampung sebagai Juara-II. Pemenang KRCI versi berkaki dimenangkan oleh Robot Bladewing dari Institut Teknologi Bandung, Juara-II diraih Robot Arachnid CCTE dari Universitas Surabaya. Robot Bladewing dikerjakan setahun lebih dengan biaya sekitar Rp 6 juta ini adalah salah satu robot tercepat dikelasnya. Robot ini dilengkapi sensor infra merah dan cahaya api.

Sementara itu juri juga memberikan penghargaan KRCI untuk kategori Expert yang dimenangkan oleh Robot Pensa Mobile dari Politeknik Elektronika Surabaya, kemudian Juara-II diraih oleh Robot Raptor dari Politeknik Negeri Bandung. Sedangkan KRCI untuk kategori Tim Dengan Inovasi Terbaik diraih oleh Robot Bledhux dari Universitas Surabaya, dan kategori Tim Dengan Disain Paling Ekonomis direbut oleh Robot Marisa dari UI.

Renaldi Damili menambahkan dalam ajang KRI ini merupakan kompetisi robot yang ketujuh dan ke ketiga untuk KRCI yang kini dikuti oleh sebanyak 100 robot karya mahasiswa. Mereka terbagi dalam 32 tim dari 28 perguruan tinggi negeri dan swasta yang berkompetisi dalam KRI, dan sebanyak 30 robot cerdas dari 22 perguruan tinggi turut andil dalam KRCI.

Jumlah perserta KRI dan KCRI tersebut merupakan peserta terseleksi dari 168 proposal KRI dari 65 perguruan tinggi dan 152 proposal KCRI dari 50 perguruan tinggi di Tanah Air. Mereka memenuhi syarat oleh panitia seleksi dari UI, ITS, ITB, IPB, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Politeknik Negeri Bandung.

"Tahun lalu hanya 98 proposal KRI dan 112 proposal KCRI. Sedangkan 10 tim membiayai sendiri membuat robot dan datang ke pertandingan, sedangkan sebagian besar dibiayai oleh Depdiknas. Untuk peserta yang bertanding diberikan dana Rp 4juta untuk KRI dan Rp 2juta untuk KRCI. Selain itu mereka memperoleh biaya akomodasi dan transportasi selama pertandingan," kata Renaldi.

Sebanyak lima tim dari Yogyakarta, empat tim dari Jakarta, empat tim dari Bandung, dua tim dari Riau, satu tim masing-masing dari Banjarmasin dan Ujungpandang. Selain itu ada juga datang dari perusahaan dan individu. "Dengan adanya pertandingan ini kiranya para perancang robot di Indonesia dapat mengaplikasikan untuk industri dan kebutuhan masyarakat," kata Renaldi.

Harap masuk 5-10 besar dunia

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Dr Bambang Sudibyo MA meminta tim robot dari Indonesia dapat masuk peringkat 5-10 besar dalam kontes robot dunia di Beijing, China pada akhir Agustus mendatang. "Sudah saatnya perguruan tinggi berprestasi di tingkat internasional, jangan sampai kalah dengan SMP dan SMA yang sudah berprestasi dalam Olimpiade Fisika dan Matematika tingkat dunia," katanya saat membuka KRI-KRCI 2005 itu, Sabtu (14/5).

Ia meminta pula kontes robot di tahun-tahun mendatang hendaknya dipersiapkan secara lebih matang dengan peserta lebih banyak lagi agar lebih bagus dan kompetitif. "Tapi, saya tidak hanya mendukung kontes robot, tapi segala kontes yang bersifat adu inovasi dan kreatifitas akan saya dukung, termasuk kontes seni dan olahraga. Saya yakin Indonesia mampu berbicara dalam kontes seni dan olahraga tingkat dunia, karena potensi itu ada dan jika berkembang akan mendorong industri di segala bidang," katanya.

Menurut dia, dirinya sangat mendukung ekspresi dalam bentuk kreatifitas dan inovasi, karena hasilnya lebih bagus bagi kemajuan bangsa dibanding ekspresi di jalanan. "Buktikan bahwa bangsa Indonesia tidak ketinggalan dari negara maju mana pun, apalagi mahasiswa itu lebih memiliki fanatisme kampus yang bagus," katanya.

KRI tahun lalu dimenangkan tim Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS dengan robot SIFA'A, namun akhirnya gagal memenangkan kontes internasional di Seoul 2004 karena dikalahkan tim dari Vietnam.

Sesuai dengan temanya, para mahasiswa peserta kontes harus dapat mendesain dua jenis robot, masing-masing satu robot manual dan beberapa buah robot otomatis. Robot tersebut harus mampu memasukkan fuelball berupa bola merah atau biru ke dalam canister sesuai dengan warna timnya.

Robot harus dibuat masing-masing dengan berat total maksimum 50 kg dan memiliki panjang maksimal 1,5 meter. Waktu pertandingan hanya hanya tiga menit, tim yang terdahulu berhasil mencapai climb onto the great wall sebelum menit berakhir dinyatakan sebagai pemenang.

Untuk tema KRCI 2005 adalah 'Robot cerdas pemadam api'. Tema ini diadaptasi dari fire fighting robot contest yang diselenggarakan Trinity College, Hartford Connecticut, AS.

Sesuai dengan tema temanya, para mahasiswa peserta kontes harus dapat mendesaian robot yang akan bergerak dalam lapangan pertandingan untuk memadamkam sejumlah lilin yang berada di dalam beberapa kamar yang diletakkan secara acak untuk setiap pertandingan.

Setiap tim harus melakukan tiga kali pertandingan yang berbeda, dimana nilai dari ketiga pertandingan tersebut akan digunakan untuk menentukan pemenang. Waktu pertandingan adalah lima menit untuk mencari dan memadamkan lilin serta dua menit untuk kembali ke posisi awal start.

Pelaksanaan KRI ketujuh dilakukan dengan menggunakan sistem setengah kompetisi. Peserta dibagi dalam delapan kelompok dengan jumlah kelompok masing-masing empat. Pemenang dari masing-masing kelompok akan bertanding dengan sistem gugur dalam perempat final dan semifinal. ***

Foto : salah satu pertandingan KRI. Robot-robot itu mesti memasukan bola ke dalam "api perdamaian" (keranjang) dan lubang-lubang yang tersedia.

AddThis Social Bookmark Button


Robot ITS Raih Dua Gelar Juara  

Surabaya, 16 Mei 2005 09:54
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meraih dua juara dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) III-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, yang berakhir Minggu petang.

Kedua gelar yang sama-sama juara utama itu diraih ITS dalam KRI dan KRCI kategori robot expert (robot beroda dengan rintangan dua lantai). Juara pertama di KRI dan KRCI kategori expert itu sama-sama dipersembahkan tim Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS.

Gelar juara umum dalam KRI dipersembahkan tim robot "Askaf-i" yang mengalahkan robot tuan rumah UI "Maximum Balance" (juara kedua), sedangkan juara pertama dalam KRCI kategori robot expert dipersembahkan tim robot "PENSA-Mobile" yang menundukkan tim robot "Raptor" dari Politeknik Negeri Bandung (Polban).

AddThis Social Bookmark Button


Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)  

Minggu, 31 Mei 2009

Senin, 16 Mei 2005 09:24


Kapanlagi.com - Tim robot Askaf-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akhirnya menjadi meraih tiket ke Kontes Robot Dunia pada 27 Agustus 2005.

Hal itu diraih setelah tim yang dikomandani Sigit Hardhiyono itu menjadi juara umum dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) VII-2005 di Balairung Universitas Indonesia (UI) kampus Depok, Jakarta, Minggu petang.

Keberhasilan tim binaan Eko Henfry Binugroho yang mantan driver robot B-Cak (juara dunia pada 2001) itu berkat kemenangan atas tim tuan rumah "Maximum Balance" dari Fakultas Teknik (FT) UI dengan angka telak yakni 45-5.

Bahkan, kemenangan Askaf-i di hadapan Dirjen Dikti Prof Ir Satryo Sumantri Brodjonegoro, 200 suporter ITS, dan sekitar 5.000 penonton itu terbilang sempurna karena mampu meraih "climb" dalam 2,20 menit dari waktu 3 menit yang disediakan.

Capaian "climb" itu berarti robot Askaf-i dalam KRI yang bertemakan "Mencapai Puncak Borobudur, Nyalakan Api Perdamaian" itu berhasil memasukkan bola pada puncak "stupa borobudur" dengan diikuti keberhasilan meletakkan bola pada empat "canister" (mangkuk) di luar "borobudur" sehingga membentuk diagonal.

Tim robot Askaf-i yang terdiri atas satu robot manual dan empat robot otomatis itu melibatkan lima orang yakni Adnan Rahmat Anom (A), Sigit Hardhiyono (S), Kritian Ari (K), Arif Zuantono (A), Fuad Hasan (F), sedangkan "i" terakhir merupakan pelengkap agar menjadi Askafi atau singkatan dari Ashabul Kahfi (tujuh pemuda yang tertidur di dalam goa).

"Saya gembira atas kemenangan itu, karena melewati permainan yang cukup seru dan kami sempat mengalami gangguan mekanik. Kunci kemenangan kami sebenarnya pada tembakan langsung ke `stupa` yang ada di luar ," kata Kristian Ari, driver robot manual dari Askaf-i.

Ditanya kesiapan ke Beijing, mahasiswa PENS-ITS angkatan 2002 itu menjelaskan tim Askaf-i akan melakukan perbaikan pada sistem mekanik dari robot yang kurang kuat, apalagi melihat tim tangguh lainnya dari Vietnam, Thailand, dan Jepang.

Menurut Ketua Tim Juri KRI 2005 Dr Ir Wahidin Wahab MSc dari UI, kemenangan tim robot ITS karena memang merupakan tim yang memiliki rancangan mekanik dan elektro cukup bagus, bahkan robot manual dapat bergerak kencang tanpa bergetar atau oleng.

"Robot yang mereka rancang itu tak kalah dengan robot buatan industri, meski dirancang dengan tangan, karena itu dalam tiga bulan menjelang ke Beijing hendaknya memperbaiki robot yang memasukkan bola-bola ke stupa puncak. Saya juga menyarankan untuk membuat mesin baru yang mampu menghalangi gerak lawan," katanya.

Menanggapi kemenangan tim PENS-ITS itu, Rektor ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA yang "menunggui" selama dua hari (14-15 Mei) itu menyatakan kemenangan itu bukan kegiatan sesaat, karena yang paling penting adalah riset and development (R&D) di bidang robotika.

"Membuat robot itu bukan membuat karya yang langsung jadi, tapi harus dilakukan dengan riset yang terus-menerus ditingkatkan, karena itu untuk ke Beijing perlu dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ada selama ini serta merancang strategi tabrakan yang tangguh," katanya.

Namun, katanya, hal yang tak kalah penting adalah komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk memberikan dorongan fasilitas dan dukungan moril. "Kehadiran saya, pak Jazidie (PR III ITS), dan pak Titon Dutono (direktur PENS-ITS) merupakan bukti dari komitmen instuti dan dukungan moril yang sangat penting," katanya.

AddThis Social Bookmark Button


sensor photodiode, komparator, look up table  

IES Tahun : 2005
Authors : Eko Henfri Binugroho, Kristian Ari Prasetyo, Sigit Hardhiyono
Kategori : MECHATRONIC, ROBOTIC & AUTOMATION
Institusi : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Judul : Penggunaan Kombinasi Array Sensor Depan dan Belakang
Abstrak : Robot otomatis ASKAF-i merupakan suatu robot yang bergerak secara otomatis dengan mengikuti garis dalam kontes robot yang diselenggarakan oleh ABU (Asia Pacific Broadcasting Union). Robot dirancang untuk meletakkan bola dari titik start ke target yang ada di lapangan pertandingan dengan panduan dari garis yang ada di lantai.
Garis pemandu yang ada di lapangan adalah jalur lurus dengan banyak perempatan, dan robot harus dapat mengikuti garis dan melewati jalur sesuai yang telah ditentukan sebelumnya. Kecepatan dan ketepatan gerak dari robot merupakan target utama dari perancangan robot ini.
Sensor yang digunakan adalah sensor photodiode yang mendeteksi perbedaan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh lantai dan garis putih. Output sensor dimasukkan ke dalam rangkaian komparator untuk menghasilkan data untuk dimasukkan ke dalam kontroler. Rangkaian kontroler yang digunakan dibuat dengan menggunakan mikrokontroler AT89S51.
Supaya robot dapat bergerak lurus mengikuti garis, digunakan 8 buah sensor photodiode. Lima buah sensor dipasang di bagian depan robot, sedangkan tiga lainnya dibagian tangah dari robot. Kombinasi dari kedelapan sensor tersebut diolah pada kontroler untuk menentukan nilai kecepatan dari motor kiri dan kanan sebagai penggerak utama robot.
Metode penentuan kecepatan adalah dengan metode look up table berdasarkan kombinasi kondisi sensor depan dan sensor belakang. Selain itu rangkaian kontroler juga mengolah kecepatan perubahan posisi robot terhadap garis pemandu untuk memperbaiki performa dari gerakan robot. Sedangkan sebagai penggerak utama digunakan 2 buah motor masing-masing untuk roda kiri dan kanan.

Kata kunci : sensor photodiode, komparator, look up table

AddThis Social Bookmark Button


Robot Surabaya Taklukan Jakarta  

Robot Jakarta yang pada babak penyisihan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2005 mulai unjuk gigi, akhirnya berguguran di babak penyisihan ketiga, hanya Maximum Balance dari Universitas Indonesia (UI) yang mampu menembus babak perempat final hingga final, namun akhirnya harus gigit jari setelah ditaklukan juara KRI tahun 2004 yaitu Politeknik Negeri Surabaya dengan robotnya yang bernama ASKAF-i, pada babak final KRI 2005 di Balairung UI Depok, kemarin.
- Robot Jakarta yang pada babak penyisihan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2005 mulai unjuk gigi, akhirnya berguguran di babak penyisihan ketiga, hanya Maximum Balance dari Universitas Indonesia (UI) yang mampu menembus babak perempat final hingga final, namun akhirnya harus gigit jari setelah ditaklukan juara KRI tahun 2004 yaitu Politeknik Negeri Surabaya dengan robotnya yang bernama ASKAF-i, pada babak final KRI 2005 di Balairung UI Depok, kemarin.

Dengan mengantongi nilai empat puluh delapan, akhirnya tim yang terdiri dari Sigit Hardhiyono, Kristian Ari Prasetyo dan Fuad Hasan berhak mewakili Indonesia dalam kontes robot internasional, Robocon 2005, pada bulan Agustus 2005 di Beijing Cina. Menurut anggota tim inti ASKAF-i Kristian Ari Prasetyo, robot yang hanya dibuat hanya dalam tempo tiga bulan itu, kemungkinan akan ada beberapa perubahan untuk membuat lebih cepat. "Di kontes internasional kecepatan dan keseimbangannya cukup tinggi, juga tim-tim dari negera Asia Pasifik lebih kuat,jadi kami harus memperhatikan itu,"katanya sambil menyambut lega kemenangan itu.

Di arena kontes suasana tegang sangat terasa saat memasuki babak final, semua seperti menahan nafas saat peluit dibunyikan. Beberapa detik setelah peluit berbunyi, Askaf-i langsung bergerak, Robot utama langsung meluncur menuju lini tengah dan memuntahkan lima bola ke main torch yang sedang berputar, sementara robot manual diluar arena bergerak cepat mengeruk dan melemparkan tiga belas bola ke fuel disk yang terletak di empat sudut arena, dan yang paling menegangkan saat tembakan terakhir dari sepuluh bola oleh robot di lini pinggir ke arah outer torch, bergemuruhlah tepuk tangan, disusul sujud syukur yang dilakukan Sigit Hardhiyono, dan teriakan kencang dari Kristiani Ari Prasetyo sambil membaringkan diri. Sang juara kembali juara.

Sementara, kegagalan dialami oleh Maximum Balance (MB) dari UI, robot yang mendapat nilai 10 poin saat menghadapi Free Hg dari Politeknik Caltex Riau di semifinal, robot utamanya mendadak mati di depan main torch, yang membuat tim MB meminta re-try kepada wasit. Sementara robot di lini pinggir hanya mampu menembakan lima bola ke outer torch, dan nahasnya robot manual hanya memasukan satu bola ke fuel disk, MB hanya mampu mengantongi nilai enam poin.

KRI akhirnya menjadikan Politeknik Negeri Surabaya sebagai juara bertahan kontes robot, dan berhak memboyong kembali piala bergilir Mendiknas, dan UI menjadi juara kedua. Sementara pemenang desain inovasi terbaik direbut oleh Prisma dari Politeknik Negeri Bandung, pemenang kategori tim dengan spirit terbaik direbut Free Hg dari Politeknik Caltex Riau dan kategori tim dengan penampilan terbaik direbut oleh Nusantara dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sementara di arena Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), robot Jakarta hanya mampu merebut juara kategori tim dengan desain paling ekonomis yang direbut oleh Marisa dari Universitas Indonesia. Marisa yang pada first trial bermain cantik dengan sekali meniup lilin hingga nyala api lilin mati, akhirnya kandas dan hanya mampu merebut juara kategori.

Kontes ini sendiri ditutup oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Suryo Sumantri Brojonegoro dan menyerahkan piala kepada para pemenang. Suryo berharap, juara KRI kali ini dapat membawa nama baik bangsa Indonesia di kontes Internasional. "Kalau pada tahun lalu kalah, sekarang saya berharap besar tim juara kali ini dapat membuktikan lebih dari yang ditampilkan saat ini,"katanya.

Dalam kesempatan tersebut Suryo juga mengatakan, bahwa penyelenggaraan KRI berikutnya akan kembali diselenggarakan di Universitas Indonesia. "Dengan alasan, UI berhasil menjadi panitia yang baik dengan menyelenggarakan kontes dengan sukses,"katanya.

Kemenangan Politeknik Negeri Surabaya disambut gembira oleh para pendukungnya yang duduk di balkon atas, sambil menyanyikan lagu Suarabaya dan bergema ucapan "Terima kasih Jakarta" dari para pendukung ASKAF-i.

AddThis Social Bookmark Button


Design by zaky